S5 Corpway - шаблон joomla Joomla
Article
  • Register
Saturday, 30 September 2017 07:15

Uniknya Upacara Tarik Batu Di Sumba

Rate this item
(0 votes)

Pulau Sumba (Nusa Tenggara Timur) tidak hanya dikenal dengan eksotika alanya dan juga perang berkuda yang disebut Pasola namun pulau Sumba telah lama dikenal sebagai wilayah yang kaya akan tinggalan megalitik baik megalitik yang telah mati maupun masih hidup. Budaya ini sangat terkait dengan kepercayaan masyarakatnya tentang pemujaan leluhur, yang dikenal sebagai Marapu. Pemujaan leluhur inilah yang menjadi konsepsi dasar atas pendirian bangunan-bangunan megalitik daerah tersebut, yang masih dilakukan hingga saat ini.

Upacara tarik batu menjadi essensi penting dalam pendirian bangunan megalitik. Mereka mencari batu bahan dasar bangunan dari daerah sekitarnya, dan memahatnya menjadi bentuk yang diinginkan. Saat penyelenggaraan, batu tersebut ditarik bersama-sama oleh ratusan bahkan ribuan orang secara komunal menuju ke tempat baru yang diinginkan. Sudah pasti bahwa upacara tarik batu yang menghabiskan biaya sangat besar ini mencerminkan status sosial yang tinggi dari keluarga penyelenggaranya. Dalam pendirian menhir Sumba dimana upacara tarik batu hanya dapat dilakukan kalangan tertentu karena mahalnya biaya pelaksanaan.

Dalam hal ini, latar belakang sosial keluarga yang melaksanakan upacara tersebut memainkan peran sangat penting di dalamnya. Beberapa tinggalan khas budaya megalitik dapat ditemukan di Sumba sebagian besar berwujud kubur-kubur batu yang setidaknya terbagi menjadi lima tipe yakni kubur batu terbuat dari monolit batu berbentuk bejana (kabang), peti kubur batu yang tersusun dari lempengan-lempengan batu bertutup ganda (kuru kata), peti kubur batu yang tersusun dari lempengan-lempengan batu bertutup tunggal (kuru lua), kubur dalam tanah yang diberi tutup batu datar (watu manyoba), dan peti kubur batu berkaki/dolmen (watu pawesi).

Semua jenis batu kubur di Sumba selalu terdiri dari wadah dan tutup kecuali watu manyoba dimana wadah kubur berupa liang tanah. Dalam kepercayaan Sumba, wadah kubur melambangkan perempuan sementara tutup kubur melambangkan laki-laki. Kubur batu di Sumba hampir selalu berasosiasi dengan rumah tempat tinggal, untuk menjaga kedekatan mereka dengan anggota keluarga yang telah meninggal.

Hal ini tidak dapat dilepaskan dari adanya anggapan bahwa roh leluhur dapat melindungi keluarganya yang masih hidup. Letak kubur yang umumnya di depan rumah juga menjadikan keluarga yang masih hidup senantiasa teringat kepada leluhurnya yang telah meninggal dan memudahkan mereka untuk mengirim doa dan sesaji. Tata letak peti kubur batu di Sumba umumnya membentuk pola linear (memanjang dengan orientasi utara-selatan, barat-timur), maupun lingkaran (sirkular) dimana pada bagian tengahnya selalu terdapat tempat khusus untuk pemotongan hewan korban dan kaduwatu yang berfungsi sebagai pusat areal suci (Prasetyo, 1986).

Sebuah kubur batu umumnya ditempati sepasang suami istri, terkadang disertai dengan cucunya. Jenazah seorang anak tidak boleh dikuburkan bersama orang tuanya, hal ini didasari pandangan bahwa pada waktu hidup seorang anak yang telah dewasa tidak boleh tinggal sekamar dengan orang tua, sehingga setelah meninggal juga tidak boleh dimakamkan dalam kubur yang sama. Kubur-kubur batu di Sumba dibuat dengan teknik pengerjaan yang rumit dan teliti. Beberapa jenis kubur batu, terutama watu pawesi, umumnya dipahat dengan sangat halus dan memiliki pola hias raya, yang masing-masing memiliki makna filosofi sendiri.

Hiasan marangga yang berbentuk perhiasan dada dan mamuli yang berbentuk seperti vagina yang distilir melambangkan kesuburan. Hiasan kerbau dan babi melambangkan status sosial, hiasan gong (katala) melambangkan kekayaan, hiasan kura-kura melambangkan kaum bangsawan. Hiasan buaya, anjing dan kuda melambangkan penjaga kubur. Hiasan-hiasan lain berupa geometris dan sulur-suluran memiliki makna keindahan. Masyarakat Sumba mengenal upacara tarik batu sebagai bagian dari tradisi menghormati leluhur. Di Sumba, obyek megalitik yang ditarik adalah kubur batu yang merupakan tempat bersemayam abadi jasad leluhur.

Bahan batu diperoleh dengan cara penggalian di tempat tertentu di Sumba, yang memang kaya akan berbagai jenis batuan. Setelah menemukan sumber batuan yang tepat, beberapa pekerja akan menatah dan memahat batu tersebut di tempat aslinya sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Pemahatan sebuah batu menjadi menhir di Sumba bisa memakan proses berbulan-bulan sampai membentuk batu kubur yang indah. Lamanya pengerjaan memahat menhir maupun batu kubur tergantung besar kecilnya ukuran dan pola hiasnya. Setelah pembuatan menhir atau kubur batu selesai, langkah selanjutnya adalah penarikan batu dari lokasi asal menuju menuju rumah sang pemilik kubur.

Prosesi penarikan menhir maupun kubur batu dari tempat asal menuju lokasi baru merupakan fenomena yang sangat menarik. Ratusan atau bahkan ribuan orang bekerja secara gotong royong menarik batu yang beratnya bisa mencapai puluhan ton. Mereka bekerja tanpa imbalan uang, namun penyelenggara upacara berkewajiban menyediakan konsumsi makanan selama upacara berlangsung dan menyediakan hadiah daging bagi para penarik batu. Di Sumba, persiapan upacara tarik batu dilakukan lebih rumit dan memerlukan persiapan matang karena obyek yang ditarik adalah batu kubur yang berukuran besar dan sangat berat.



Di lokasi asal batu, beberapa tukang kayu yang dalam istilah lokal disebut monipelu membuat kuda-kuda (tenan) berupa dua gelondong kayu bulat utuh yang ukurannya disesuaikan dengan batu yang akan ditarik. Kedua ujung kayu disatukan dan dibentuk menyerupai kepala kuda. Walaupun tenan berbentuk kepala kuda, namun secara simbolis tenan melambangkan perahu sebagai kendaraan yang akan membawa kubur batu. Bahan kayu yang digunakan terbuat dari kayu kameti yang bersifat lentur dan tidak mudah patah. Di atas tenan diberi kerangka kayu berbentuk empat persegi panjang mengelilingi batu, sebagai tempat pegangan paaung watu dan untuk meletakkan paji dan bendera. Paji adalah bentangan kain berwarna putih, sedangkan bendera (regi khobu) berupa kain-kain tenun motif asli Sumba yang merupakan sumbangan dari para kerabat.

Paji dan bendera memiliki makna untuk ”memayungi” kubur agar selalu dingin dan teduh. Di Sumba, sesaat sebelum acara tarik batu dimulai, pemimpin proses tarik batu (paaung watu), memberikan santan kelapa (wee malala) yang dipercikkan ke batu, sebagai simbol penyucian batu agar batu lebih mudah untuk ditarik. Di atas batu juga disiapkan gong (tala) dan beduk (laba) sebagai alat musik untuk memberikan semangat kepada para penarik batu. Saat penarikan batu, sebagai alas digunakan balok-balok kayu bulat yang disebut kalang sebagai landasan yang berfungsi sebagai roda. Kayu-kayu bulat dengan diameter bervariasi tapi memiliki panjang rata-rata empat meter diletakkan di sepanjang jalan yang akan dilalui batu.

Alas kayu itu tidak harus menutupi seluruh jalan, karena kayu yang telah dilalui akan diambil dan dipasang kembali di depan hingga batu mencapai tempat pendirian kubur. Tali untuk menarik batu umumnya terdiri dari 10 buah dengan tiga jenis bahan yakni tali plastik (tambang), tali dari sulur pohon tuba (tuwa) dan rotan (uwi). Masing-masing tali ditarik oleh 50-100 orang, sehingga total penarik batu setidaknya melibatkan ratusan orang. Apabila dihitung dengan orang-orang lain yang bergantian menarik, setidaknya sebuah upacara tarik batu besar diikuti oleh seribu orang. Masing-masing tali memiliki fungsi, tali yang berada di ujung luar sebelah kanan atau kiri berfungsi sebagai kemudi untuk mengatur arah batu, sementara tali lain berfungsi untuk menarik batu.

Peran paaung watu sangat dominan, karena bertugas mengatur jalannya upacara sambil senantiasa meneriakkan kata hutaya (semangat) setiap saat. Terkadang untuk membangkitkan tenaga, dia meneriakkan kata sindiran seperti mangumammi (perempuan kamu!), yang dijawab spontan oleh massa, sambil mengerahkan segenap tenaga untuk menarik batu, dengan teriakan munima (kami laki-laki!). Paaung watu adalah sang pemimpin dan salah satu peletak sukses dalam upacara tarik batu, oleh karenanya, dia harus memiliki kemampuan untuk mengatur dan memberi semangat kepada massa penarik batu yang jumlahnya ribuan. Di sepanjang jalan yang dilalui tersedia kendaraan yang membawa air minum kemasan maupun air minum yang berasal dari mata air. Secara berkala mereka juga disiram air untuk menghindari dehidrasi, karena panas matahari di daerah Sumba sangat terik.

Dalam perjalanan menuju rumah si pemilik batu, tidak selamanya tarik batu berjalan lancar. Terkadang massa tidak dapat selalu diarahkan sehingga arah batu menjadi melenceng bahkan tidak jarang batu bisa miring atau terbalik. Belum lagi halangan lain berupa rusaknya tenan atau kayu-kayu kalang karena tidak kuat menahan beban batu. Jika halangan tersebut dirasa sangat mengganggu sehingga tidak bisa dilanjutkan, maka acara tarik batu akan ditunda pada hari lain. Hal ini sangat merepotkan karena sulit sekali mengumpulkan ratusan atau ribuan orang dalam hari yang sama. Jika perjalanan tarik batu lancar, sebuah kubur batu berbobot 12 ton dapat ditarik seribu orang dalam waktu tujuh jam, dalam jarak 2,2 kilometer. Setelah batu kubur berada di depan rumah si pemilik, acara selanjutnya menerima secara resmi sumbangan hewan-hewan dari para kerabat yang umumnya berupa kerbau dan babi.

Jika kerbau dan babi yang disumbangkan berjenis kelamin jantan, maka para penerima tamu akan membunyikan alat musik secara bertalu-talu. Sebaliknya jika hewan yang disumbangkan berjenis kelamin betina, alat musik tidak dibunyikan. Setelah dilakukan pencatatan terhadap semua sumbangan yang diterima, acara berikutnya adalah kelar lima, yakni pembagian daging hewan kepada seluruh masyarakat yang telah bergotong royong menarik batu. Secara harfiah kelar lima memiliki makna : membersihkan tangan yang luka karena menarik batu. Acara kelar lima diadakan oleh keluarga sebagai ungkapan terima kasih kepada setiap orang yang telah terlibat secara aktif pada acara tarik batu.

Berbeda dengan daerah lain, pemotongan hewan di Sumba dilakukan dengan cara ditikam dengan tombak dan kemudian tombaknya dilepaskan. Dari leher binatang tersebut akan menetes darah sampai binatang tersebut tergelepar mati kekurangan darah. Pemilik acara juga wajib menyediakan makanan untuk segenap penarik batu dan tamu-tamu yang hadir menyaksikan acara tarik batu. Menu utama adalah nasi dan daging babi atau kerbau. Setelah acara tarik batu selesai, belum berarti ritual persiapan kubur selesai. Pada umumnya, saat ditarik, kubur batu belum diberi lubang jenazah dan belum dipasang kaki-kaki kubur jika batu kubur berbentuk watu pawesi.

Lubang jenazah baru akan dibuat beberapa bulan setelah acara tarik batu selesai. Biasanya pada saat itu sekaligus didirikan kaki-kaki batu untuk menyangga kubur utama. Pekerjaan selanjutnya adalah memberikan hiasan berupa menhir (kaduwatu) dan memahat pola hias sesuai yang dikehendaki. Bagi orang Sumba, menyiapkan kubur batu sebagai tempat peristirahatan terakhir merupakan satu kebutuhan. Sungguh merupakan satu kebahagiaan yang sempurna, jika pada saat hidupnya, orang Sumba melihat secara langsung persiapan dan pembuatan makam sebagai tempat istirahat abadinya kelak.

Sebuah kubur batu yang megah dipercaya menjadi semacam kendaraan yang akan mengantar si mati ke dunia yang kekal. Melihat sebuah kubur yang kelak akan dipakai sebagai tempat jenazahnya, mendatangkan rasa nyaman dan prestise tersendiri, terlebih jika kubur tersebut terbuat dari monolith besar yang untuk menarik dan membuatnya menjadi kubur memerlukan biaya yang sangat besar. Upacara tarik batu, di Sumba merupakan refleksi status sosial si mati, karena memakan biaya yang amat besar. Hanya keluarga bangsawan dan memiliki kekayaan materi berlebih yang mampu menyelenggarakan upacara tersebut.

Selain itu, penyelenggara acara hampir pasti merupakan tokoh yang disegani di daerahnya, sehingga dapat dengan mudah mengumpulkan ratusan bahkan ribuan orang untuk terlibat dalam acara tarik batu. Terdapat dua sisi yang cukup signifikan dalam setiap upacara tarik batu tersebut. Selain sebagai status sosial sang penyelenggara, upacara tersebut juga merupakan “dharma” warga setempat dalam dedikasi mereka kepada arwah leluhur. Setiap anggota masyarakat, tanpa ada paksaan, akan bekerja bersama-sama dalam mendirikan bangunan megalitik.

Rasa solidaritas adalah inti dari upacara tarik batu ini, karena mereka beranggapan bahwa dengan cara seperti ini akan diperoleh ketentraman dan kesuburan yang dilimpahkan oleh nenek moyangnya. Oleh karena itu, upacara tarik batu identik dengan biaya upacara yang sangat besar, yang hanya dapat dilaksanakan oleh orang-orang kaya dengan status sosial tinggi. Semakin raya upacara ini dilaksanakan, semakin tinggi pula status sosial yang akan didapat sang penyelenggara.

http://www.moripanet.com/2014/03/uniknya-upacara-tarik-batu-di-sumba.html

Read 24 times Last modified on Saturday, 30 September 2017 07:23

DPD ASITA NTT FB

 

Masukan email Anda, & dapatkan informasi tentang NTT

About ASITA NTT

Association of  The Indonesian Tours And Travel  Agencies (ASITA) adalah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia. ASITA didirikan di Jakarta pada 7 Januari 1971 dan saat ini, ASITA tingkat Nasional berkedudukan di Jakarta. ASITA sendiri memiliki 31 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar di seluruh Indonesia yang salah satunya terdapat di NTT yang didirikan pada tahun 1974.
ASITA NTT merupakan salah satu anggota Stakeholder Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTT atau yang lebih dikenal dengan sebutan NTT Tourism Board.