S5 Corpway - шаблон joomla Joomla
Article
  • Register
Saturday, 30 September 2017 07:24

Goa Batu Cermin: sisi lain tentang keindahan Goa Batu Cermin

Rate this item
(0 votes)

Gua batu cermin adalah gua atau terowongan yang terdapat di bukit batu yang gelap di Labuan Bajo, Manggarai Barat, Flores, Nusa Tenggara Timur, Indonesia. Luas gua ini 19 hektar, dan tingginya sekitar 75 meter. Sinar matahari masuk ke gua melalui dinding-dinding gua, dan memantulkan cahayanya di dinding batu sehingga merefleksikan cahaya kecil ke areal lain dalam gua sehingga terlihat seperti cermin. Stalagtit dan stalagmit dalam gua terlihat berkilauan saat disinari cahaya senter maupun cahaya matahari. Kilauan ini disebabkan oleh kandungan garam di dalam air yang mengalir di saat turun hujan. Hal inilah yang membuat masyarakat sekitar menyebut gua ini denga gua batu cermin.

Gua batu cermin ditemukan oleh Theodore Verhoven, seorang pastor Belanda sekaligus juga sebagai seorang arkeolog. Gua tersebut ditemukan pada tahun 1951. Verhoven mengemukakan bahwa dahulu Pulau Flores berada di dasar laut. Pernyataan ini berdasarkan temuan koral dan fosil satwa laut yang menempel di dinding gua seperti fosil kura-kura. (Menurut situs Wikipedia)

Heheee…cukup ya membahas Ilmu Pengetahuan Alamnya, soalnya aku gag paham juga sih, itu kata-kata diatas juga saya copas dari situs Wikipedia kok. Kita kembali lagi tentang judul diatas, bukan di dalam goa batu cerminnya yang akan kuceritakan (maklum gag tahu jenis fosil, stalagtit dll..hehee), tapi yang akan kuceritakan adalah perjuangan mendaki puncak Goa Batu Cermin.

Usaha saya dimulai dengan mencari guide yang bisa menemani ke atas Goa Batu Cermin, dan itu tak mudah gaess, soalnya banyak guide yang tidak berani naik ke puncaknya karena berbahaya dan tidak ada jalurnya dan mereka bukan menjadi guide ke puncak melainkan guide di dalam Goa Batu Cerminnya. Tiket masuk ke Goa Batu Cerminnya 10 rb perorang dan guidenya biasanya untuk group mereka meminta bayaran 50 rb. Setelah saya bersusah payah menunggu guide yang ingin menemani saya ke puncak, akhirnya ada salah satu siswa SMIP Labuan Bajo yang lagi magang, mengatakan bisa menemani ke puncak. (untuk tarifnya sama dengan guide biasa, hanya saja saya dikasih karting karena bisa berbahasa daerah mereka.

Ternyata di pintu masuk Goa Batu Cermin, kami bertemu beberapa wisatawan sekitar 10 orang, kayaknya sih dari asia timur githu, soalnya putih-putih dan bersih, beda banget ma kulitku….hahaaa, kok jadi bahas kulit sih!!!… setelah say hello sebentar, kami berbelok arah menuju salah satu jalur buatan menuju puncak, dan WOAWWW, ku pikir sebelumnya jalur yang akan kami gunakan seperti jalur-jalur biasa yang telah dibuat khusus menuju puncak, ternyata jalur itu bukan jalur. Pantesan guidenya beberapa kali bertanya tentang kesiapan saya dan kenapa harus ke puncak dan tahu dari siapa tentang keindahannya.

Terus terang saya tahu keindahan puncaknya dari instagram dan tak pernah tahu jalur menuju puncaknya. Tapi “SEKALI MELANGKAH PANTANG MUNDUR”, hahaaa..gag mundur tapi jatuh menggelinding. Setelah berfikir dan menimbang-nimbang saya pun tetap ingin melanjutkan perjalanan, karena keindahan alam itu, tak kana da tanpa perjuangan…cieeee. Sebagai informasi, jalur vertikalnya ada 3 kali dengan derajat kemiringan gak miring alias 90 derajat, caranya hanya satu bergelantungan dengan pemandangan dibawah batu-batu tajam yang siap menyambut dengan hangat dan dingin…hahaaa, ngeriii yaa!!!

Jalur pertama kami lewati dengan cara melompat dan dan menginjak batu-batu yang tajam, untungnya guide yang saya gunakan sudah biasa naik kesini (katanya sambil bawa pacar….percaya gag ya!!), dan saya banyak terbantu karena dia yang akan menyambut dan memegang tangan, akhirnya tantangan pertama pun kami lewati dengan aman. Setelah tantangan pertama, ambil nafas dan mengatur strategi selanjutnya merupakan solusi terbaik, karena tantangan kedua lebih ganas. Usaha ditantangan kedua ini, kami harus mendaki pohon dan melewati dahannya yang sebesar tangan saya untuk melewati ini dan tetap pemandangan dibawahnya adalah batu-batu tajam yang siap menyambut dengan hangat dan dingin.

Akhirnya setelah meloncat dengan hati-hati, tantangan kedua kami lewati juga. Alhamdulillah tantangan terakhir bakal kami lewati juga, karena sepertinya yang ketiga tidak terlalu sulit dilewati. Setelah mengatur nafas, tantangan ketiga ternyata tidak sulit, sesuai dengan dugaan saya sebelumnya.

Akhirnya sekitar 15 menit perjalanan kami tiba di puncak Goa Batu Cermin, dengan peluh keringat yang membasahi sekujur tubuhku dan beberapa luka ditangan ketika menahan tubuh di jalur kedua. Dan perjuangan kami pun terbalas dengan keindahan yang disajikan oleh Sang Pelukis Alam. Batu-batu besar yang indah menghiasi puncaknya, dan pemandangan hutan lebat, stadion, perumahan, kantor-kantor serta bandara Komodo menambah keindahan yang tersaji melalui puncak Goa Batu Cermin.

Setelah sekitar 30 menit kami menikmati puncaknya dan mengambil beberapa foto, kamipun beranjak untuk turun kembali dan ternyata turunnya lebih mudah menurutku, soalnya tinggal menggelinding sih…hahaaa. Gag la, tapi beneran kok, menurun ternyata lebih mudah dan hati-hati tetapnya gaesss. Ketika kami tiba di bawah, secara tidak sengaja kami bertemu kembali dengan 10 orang wisatawan yang sebelumnya saya sebutkan, dan mereka bertanya darimana kami…dan ku jawab dengan melihat beberapa foto yang ku ambil dari puncaknya, dan AJAAIIIBBB….mereka tertarik gaess untuk ke atas juga.

https://defriariyanto.wordpress.com/2016/01/23/goa-batu-cermin-sisi-lain-tentang-keindahan-goa-batu-cermin/

Read 21 times

DPD ASITA NTT FB

 

Masukan email Anda, & dapatkan informasi tentang NTT

About ASITA NTT

Association of  The Indonesian Tours And Travel  Agencies (ASITA) adalah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia. ASITA didirikan di Jakarta pada 7 Januari 1971 dan saat ini, ASITA tingkat Nasional berkedudukan di Jakarta. ASITA sendiri memiliki 31 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar di seluruh Indonesia yang salah satunya terdapat di NTT yang didirikan pada tahun 1974.
ASITA NTT merupakan salah satu anggota Stakeholder Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTT atau yang lebih dikenal dengan sebutan NTT Tourism Board.