S5 Corpway - шаблон joomla Joomla
Article
  • Register
Saturday, 30 September 2017 07:27

Saga Sabana Nagekeo

Rate this item
(0 votes)

Jalan menuju Mbay, Nagekeo merupakan jalan imaji bagi para kelana. Menyimpang kekanan Aegela, perhentian populae selepas Ende, jalan ini didominasi lintasan lugas yang tak buruk aspalnya. Lucunya setiap kali saya berharap melihat setitik hitam sebagai ujung jalur lurusnya, jalan ini malah memunculkan kelokan-kelokan tajam secara mengejutkan.

Tapi saya menyukai kelengangannya. Saya menyukai ilalang yang mengagresi bukit-bukit berundak Nagekeo. Sedikit hutan, kebanyakan belukar setinggi pinggang yang saya pastikan langsung kecoklatan warnanya begitu hujan ingkar datang dalam sepekan. Rumah-rumah disisi jalan berdiri berjauhan satu sama lain. Terkesan saling mengasingkan diri, kontras dengan para penghuni yang saban hari gemar bertandang ke tetangga mereka dan membicarakan hal sepele berlarut-larut.

Mahkluk yang paling mudah dijumpai disini adalah kawanan sapi yang dilepas bebas merumput naik turun bukit. Sedangkan cakrawalanya kerap dihiasi gerombolan elang, menciptakan aura magis tersendiri. Rute yang membelah punggung bukit dengan panorama luas hingga kaki langit penuh kebisuan seperti ini merupakan bentang kertas yang siap diisi ide hebat maupun gagasan revolusioner mengenai banyak hal.

Sebagaimana pepatah mengatakan, "Ditanah basah engkau boleh mendapat kearifan, namun ditanah keringlah ilhammu digelorakan". Itulah saya menyebut jalan menuju Mbay sebagai jalan imaji, terlebih jika bertualang seorang diri.

Menjelang Mbay, kesempurnaan perjalanan mencapai klimaks manalaka awan-awan berserak disisi barat perlahan berubah kekuningan. Undak-undakan bukit nan jauh saling bersilang seakan berebut pendar terakhir matahari. Ilalang menegakkan pucuknya demi menghirup aroma penghujung hari. Inilah persembahan senja perbukitan Nagekeo. Hawa sejuk membuka pori kulit dan menyusup dalam tubuh. Angin menjadikan saya sadar akan sensasi alam, menjadikan saya serupa mummi berdebu yang dibangkitkan embusan mantra. Ya, mantra yang mengecoh orang sehingga tak peduli dengan keindahan daerah ini. Mantra yang selama ini membuat nama Nagekeo tidak masuk dalam jalur wisata Pulau Flores.

Saga Tutubhada
Jika bicara tentang kampung tradisional di Flores, rujukan populer adalah kampung Bena (Ngada), kampung Nggela (Ende), kampung Wae Rebo (Manggarai). Nyatanya, Nagekeo pun punya kampung adat yang tak kalah memikat, bernama Tutubhada.

Berada diketinggian terkitari bukit sabana, Tutubhada sudah eksis selama ratusan tahun. Penduduk yang berdiam disini keturunan suku Rendo yang dulunya pandai berburu. Suku Rendo tersebar membentuk tujuh klan dan kebanyakan membentuk komunitas diatas bukit atau dilembah-lembah yang saling berjauhan. Ketika peristiwa besar hendak dilakukan, ketujuh klan mengirimkan wakilnya untuk hadir dalam musyawara. Tak ubahnya pertemuan kaum Elf dalam sekuel Lord of The Ring.

Legenda terbentuknya Tutubhada terbilang unik. Konon, areal ini aslinya berupa sebuah kubangan air yang ditunggui kerbau purba berukuran raksasa, juga memiliki tembolok menjuntai. Suatu masa kemarau panjang terjadi. Suku Rendo menemukan air ini dan harus berhadapan dengan kerbau ini. Pertempuran pun terjadi, kerbau pun berhasil dibinasakan. Mereka kemudian mendirikan kampung, lalu menamakannya Tutubhada, yang berarti tembolok kerbau sebagai pengingat asal muasal.

Saat saya datang, terdapat selusin rumah tradisional berhadapan memanjang, areal tengahnya seperti lapangan bola, tempat dihelat upacara massal. Rumah-rumah di Tutubhada memiliki "Strata Kedewasaan" sendiri-sendiri. Tolak ukurnya bisa diamati dari bentuk rumah. Semakin tinggi atap, berarti semakin tinggi pula usia dan nilai bangunan.
Kaum lanjut usia di Tutubhada sangat dihormati. Setiap pagi kala fajar menyingsing, anak dan cucu menuntun mereka ke depan 'bale' untuk berjemur dibawah sinar matahari. Sungguh pemandangan yang menyentuh dan humanis. Mereka membuai saya dengan kisah-kisah leluhur, saga yang dibawah turun temurun.

http://www.nttbersih.com/2016/03/saga-sabana-nagekeo.html#_

Read 20 times

DPD ASITA NTT FB

 

Masukan email Anda, & dapatkan informasi tentang NTT

About ASITA NTT

Association of  The Indonesian Tours And Travel  Agencies (ASITA) adalah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia. ASITA didirikan di Jakarta pada 7 Januari 1971 dan saat ini, ASITA tingkat Nasional berkedudukan di Jakarta. ASITA sendiri memiliki 31 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar di seluruh Indonesia yang salah satunya terdapat di NTT yang didirikan pada tahun 1974.
ASITA NTT merupakan salah satu anggota Stakeholder Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTT atau yang lebih dikenal dengan sebutan NTT Tourism Board.