S5 Corpway - шаблон joomla Joomla
Berita
  • Register
Wednesday, 08 November 2017 10:52

2018, Tiga Tantangan Besar Hadapi Pariwisata Indonesia

Rate this item
(0 votes)

Menteri Pariwisata (Menpar) Arief Yahya menilai sepanjang tahun 2018, ada tiga tantangan besar yang dihadapi pariwisata Indonesia. Challenge pertama enviromental sustainability, digital tourism dan tantangan terakhir soal kelembagaan atau regulasi.

“Memang ketiganya adalah big Challenge, mau tidak mau harus kita hadapi. Apalagi target 18 juta wisman pada tahun 2018 harus dicapai. Langkah ini butuh pemikiran dan kerja ekstra keras, saya sendiri kadang tak sempat tidur untuk mencapai itu agar teralisasi,” papar Menpar Arief Yahya saat membuka Indonesia Tourism Outlook 2018: Prospek dan Tantangan Pariwisata Indonesia yang digelar Forum Wartawan Pariwisata (Forwapar) Hotel DoubleTree by Hilton, Jakarta, Rabu (1/11/2017).

Dijelaskan, dalam hal enviromental sustainability, destinasi wisata Indonesia selalu mendaoat kritikan, sorotan karena Indonesia dianggap tidak peduli dengan kelestarian alam. Bahkan indek daya saing mengacu pada standar global (Travel and Tourism Competitive Index (TTCI) bahwa pariwisata Indonesia sangat rendah.

Challenge selanjutnya, lanjut Menpar, adalah digital tourism. Penerapan digital tourism menjadi keniscayaan sebagai strategi untuk merebut pasar dalam persaingan global. Mengingat, kondisi pasar wisata saat ini sudah berubah.

Misalnya, hampir 63% transaksi jasa travel dilakukan secara online sehingga bila travel biro tidak segera menyesuaikan diri ke digital atau tetap konvensional maka nasibnya akan seperti Wartel. Karena itu, digital tourism menjadi strategi yang harus dilakukan untuk merebut pasar global khususnya pada 12 fokus pasar yang tersebar di 26 negara, ujar Menpar Arief sebagai keynote speaker.

Selain itu, tantangan selanjutnya untuk mengembangkan pariwisata adalah kelembagaan, regulasi pemerintah. Saat ini ada 42.000 regulasi yang menyulitkan pengembangan pariwisata. “Jumlah sebanyak itu yang bicara bukan saya, namun hitungan Presiden Joko Widodo sendiri. Karenanya ya kita harus lakukan deregulasi jika pariwisata Indonesia lebih maju,” lontarnya.

Untungnya, sambung dia, Indonesia memiliki Presiden Joko Widodo yang komitmen dan konsentrasi di sektor pariwisata. Dan menjadikan pariwisata sebagai leading sector. Sekaligus menjadi andalan industri bagi bangsa Indonesia karena tak punya lagi penghasilam devisa negara yang sangat besar.

Ketua Umum Forwapar Fatkhurohim mengatakan Indonesia Tourism Outlook (ITO) 2018 diharapkan menjadi ajang untuk mengetahui dan memprediksi peluang sektor pariwisata Indonesia pada tahun 2018 dan berbagai program pariwisata yang harus digenjot pada tahun depan. ITO 2018 mengusung tema Menganalisis Prospek dan Peluang Pariwisata Indonesia.

Sejumlah pembicara yang akan hadir dan menyampaikan paparannya yakni Menteri Pariwisata Arief Yahya sebagai pembicara kunci, pengamat ekonomi Faisal Basri, Senior Vice-President, Government and Industry Affairs, World Travel and Tourism Council – World Travel & Tourism Council Helen Marano, dan Head of Destination Marketing APAC, TripAdvisor Sarah Mathew.

Chairman PATA Chapter Indonesia Purnomo menanggapi digelarkan ITO menyampaikan selamat atas kegiatan tersebut. “Saya mengapreasiasi, apalagi di tengah target 20 juta kunjungan wisman yang dicanangkan oleh pemerintah ini tentunya harus dilakukan kerja keras bersama oleh seluruh lapisan baik dari pemerintah, pengusaha, pelaku pariwisata termasuk teman-teman dari media,” katanya.

Menurutnya ITO merupakan terobosan yang sangat ideal dalam menyongsong tahun 2018 sehingga untuk mencapai target kunjungan 20 juta wisman dapat dikerjakan secara bersama-sama dan bergotong royong dari berbagai lapisan.

Pemerintah telah memasang target pada 2019 kunjungan wisatawan mencapai 20 juta wisman dan 275 juta perjalanan wisatawan nusantara (wisnus). Pariwisata diproyeksikan menjadi penyumbang devisa terbesar dengan nilai Rp280 triliun. Adapun indeks daya saing pariwisata ditarget lompat ke posisi 30, dan penyerapan tenaga kerja pariwisata sebanyak 13 juta orang, sambungnya.

http://bisniswisata.co.id/2018-tiga-tantangan-besar-hadapi-pariwisata-indonesia/

Read 110 times

DPD ASITA NTT FB

 

Masukan email Anda, & dapatkan informasi tentang NTT

About ASITA NTT

Association of  The Indonesian Tours And Travel  Agencies (ASITA) adalah Asosiasi Perusahaan Perjalanan Wisata Indonesia. ASITA didirikan di Jakarta pada 7 Januari 1971 dan saat ini, ASITA tingkat Nasional berkedudukan di Jakarta. ASITA sendiri memiliki 31 Dewan Pimpinan Daerah (DPD) yang tersebar di seluruh Indonesia yang salah satunya terdapat di NTT yang didirikan pada tahun 1974.
ASITA NTT merupakan salah satu anggota Stakeholder Gabungan Industri Pariwisata Indonesia (GIPI) NTT atau yang lebih dikenal dengan sebutan NTT Tourism Board.